Senin, 25 Februari 2013

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU DAN MAHLUK SOSIAL


Halo Sobat ,ini ada Post terbaru,sebenarnya ini Tugas Kuliah waktu semester 6 ,tapi baru saya Post,Maklum lah akhir2 ini lagi sibuk mikirin judul skripsi(Baru judul udah mulai Ribet) hehehe
silahkan dibaca ya



MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU DAN MAHLUK SOSIAL
D
I
S
U
S
U
N
Oleh : Kelompok III
·         Dedy G baringbing
·         One Virgo Silalahi
·         Faisal F samosir
·         Yogie H G nainggolan


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
                                                     2011         

A.    LATAR BELAKANG

Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial selalu dihadapkan kepada masalah sosial yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Masalah sosial timbul sebagai akibat perilaku dan terjadinya interaksi antara sesama manusia satu dengan yang lainnya termasuk lingkungannya.
Masalah sosial yang terjadi tidak sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, disebabkan oleh adanya perbedaan perkembangan kebudayaan, kependudukan dan lingkungan alamnya, disiplin-disiplin yang tergolong ilmu sosial mempelajari hakekat masyarakat dengan persfektif yang berbeda-beda, menyebabkan terjadinya keanekaragaman perilaku sosial yang disoroti dan dipelajarinya.
Untuk memahami masalah sosial yang beranekaragam perlu menggunakan pendekatan beragam, yaitu pendekatan interdisipline approach dan multydisipline approach. Keanekaragaman kesatuan sosial di dalam masyarakat yang masing-masing mempunyai kepentingan, kebutuhan pada pemikiran dan tingkah laku yang beebeda-beda. Namun tetap adanya perekat kebersamaan, tetapi tidak kurang juga menimbulkan pertentangan-pertentangan dan kesetiakawanan.

B. TUJUAN
Adapun tujuan yang akan kita capai dalam pembuatan makalah ini adalah :
1.      mengetahui konsep individu dan masyarakat
2.      mengetahui pengertian dari masyarakat dan cirri-cirinya
3.      mengetahui konsep masyarakat desa dan kota

  
1.      INDIVIDU DAN MASYARAKAT

1.Manusia Sebagai Mahluk Individu
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut lagi sebagai individu. Dalam diri individu ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.
Bila seseorang hanya tinggal raga, fisik, atau jasmaninya saja, maka dia tidak dikatakan sebagai individu. Jadi pengertian manusia sebagai makhluk individu mengandung arti bahwa unsur yang ada dalam diri individu tidak terbagi, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Setiap manusia memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Sekali pun orang itu terlahir secara kembar, mereka tidak ada yang memiliki ciri fisik dan psikis yang persis sama. Perbedaan itu terletak pada bentuk, ukuran, sifat, dan lain-lain. Kita dapat membedakan seseorang dari lainnya berdsarkan perbedaan-perbedaan yang ada, baik pada perbedaan fisik maupun psikis.
Ciri seorang individu tidak hanya mudah dikenali lewat ciri fisik atau biologisnya. Sifat, karakter, perangai, atau gaya dan selera orang juga berbeda-beda. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor genotipe dan fenotipe. Faktor genotipe adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan. Secara fisik seseorang memiliki 4 kemiripan atau kesamaan ciri dari orang tuanya, kemiripan atau kesamaan itu mungkin saja terjadi pada keseluruhan penampilan fisiknya, bisa saja terjadi pada bagian-bagian tubuh tertentu saja. Faktor lingkungan ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Selain individu, kelompok sosial yang lebih besar, seperti keluarga, tetangga, dan masyarakat, memiliki cirri atau karakter atau kebiasaan yang berbeda-beda pula.



2.Manusia Sebagai Mahluk Sosial
Manusia dikatakan sebagai makhluk social, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial untuk hidup berkelompok untuk hidup dengan orang lain. Dalam konteks sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal orang lain oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait dengan orang lain. Selama manusia hidup ia tidak akan lepas dari pengaruh masyarakat, di rumah, di sekolah, dan di lingkungan yang lebih besar manusia tidak lepas dari pengaruh orang lain. Oleh karena itu manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang didalam hidupnya tidak bisa melepasakan diri dari orang lain.
Cooley memberi nama looking-glass self untuk melihat bahwa seseorang dipengaruhi oleh orang lain. Nama yang demikian diberikan olehnya karena ia melihat analogi antara pembentukan diri seseorang dengan perilaku orang yang sedang bercermin; kalau cermin memantau apa yang terdapat didepannya, maka menurut Cooley diri seseorang memantau apa yang dirasakannya seabagai tanggapan masyarakat terhadapnya. Cooley berpendapat bahwa looking-glass self terbentuk melalui 3 tahap. Pada tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya. Tahap kedua seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya.
Pada 5 tahap ketiga seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya. Salah satu teori peranan dikaitkan dengan sosialisasi oleh teori George Herbert Mead. Menurut Mead setiap anggota baru masyarakat harus mempelajari peranan-peranan yang ada dalam suatu masyarakat. Menurut Mead pengembangan diri manusia berlangsung beberapa tahap-tahap play-stage,game-stage,dan generalized other. Menurut Mead pada tahap play-stage,seorang anak kecil mulai belajar menggambil peranan orang-orang yang berada disekitarnya. Namun pada tahap ini sang anak belum sepenuhnya memahami isi peranan-peraanan yang ditirunya itu. Pada tahap game-stage seorang anak tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain yang menjadi lawan interaksinya. Pada tahap ketiga sosialisasi seseorang dianggap telah mampu mengambil peranan – peranan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat, mampu mengambil peranan generalized other.
Prasangka merupakan suatu istilah yang mempunyai berbagai makna. Namun dalam kaitannya dengan hubungan antar kelompok istilah ini mengacu pada sikap permusuhan yang ditujukan terhadap satu kelompok tertentu atas dasar dugaan bahwa kelompok tersebut mempunyai ciri-ciri yang tidak menyenangkan. Sikap ini dinamakan prasangka, sebab dugaan yang dianut oleh orang yang berprasangka tidak didasarkan pada pengetahuan, pengalaman atau bukti - bukti yang cukup memadai. Orang yang berprasangka bersifat tidak rasional dan berada di alam bawah sadar sehingga sukar diubah meskipun orang yang berprasangka tersebut diberi penyuluhan.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu :
*      Manusia tunduk pada aturan dan norma social
*      Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain
*      Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
*      Potensi manusia akan berkembang bila hidup di tengah-tengah manusia

A.    PENGERTIAN MASYARAKAT DAN CIRI-CIRINYA

Ciri atau unsur masyarakat adalah :
*        Kumpulan orang.
*        Sudah terbentuk dengan lama.
*        Sudah memiliki system social atau struktur social tersendiri.
*        Memiliki kepercayaan, sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama.

Unsur masyarakat menurut Krech, Cruthchfield, dan Ballachey :
*        Kolektivitas interaksi manusia yang terorganisasi.
*        Kegiatannya terarah pada sejumlah tujuan yang sama.
*        Memiliki kecenderungan untuk memiliki keyakinan, sikap dan bentuk tindakan yang sama.





B.           MASYARAKAT DESA DAN KOTA

Menurut Soerjono Soekamto, masyarakat kotadan desa memiliki perhatian yang berbeda,khususnya terhadap perhatian keperluanhidup. Di desa, yang diutamakan adalahperhatian khusus terhadap keperluan pokok,fungsi-fungsi yang lain diabaikan. Lain denganpandangan orang kota, mereka melihat selainkebutuhan pokok, mereka melihat selainkebutuhan pokok, pandangan sekitarnyasangat mereka perhatikan

Ciri-ciri Masyarakat Kota
*      Kehidupan keagamaan berkurang bika dibandingkan dengan kehidupan agamadi desa.
*      Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantungpada orang lain.
*      Pembagian kerja diantara warga kota jug lebih tegas dan punya batas-batasnyata.
*      Dikota tinggal orang-orang dengan aneka warna latar belakang sosial,pendidikan, yang menyebabkan individu dapat memperdalam suatu bidangkehidupan.
*      Khusus warga kota tidak mungkin hidup sendiri.
*      Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak/ lebihbervariatif dibandingkan di desa.
*      Pikiran rasional umumnya dianut masyarakat kota.
*      Jalan kehidupan yang cepat di kota mengakibatkan pentingnya faktor waktu.
*      Perubahan sosial tampak nyata di kota, karena kota terbuka dalam menerimapengaruh dari luar.
Ciri-ciri Masyarakat Desa

*      Lingkungan dan Orientasi Terhadap Alam
*      Dalam Segi Pekerjaan/Mata Pencaharian
*      UkuranKomunitas
*      Kepadatan Penduduknya
*      Diferensiasi Sosial
*      Pelapisan Sosial
*      Pengawasan Sosial
*      Pola Kepemimpinan



KESIMPULAN

            Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Bila seseorang hanya tinggal raga, fisik, atau jasmaninya saja, maka dia tidak dikatakan sebagai individu. Jadi pengertian manusia sebagai makhluk individu mengandung arti bahwa unsur yang ada dalam diri individu tidak terbagi. Setiap manusia memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Ciri seorang individu tidak hanya mudah dikenali lewat ciri fisik atau biologisnya. Sifat, karakter, perangai, atau gaya dan selera orang juga berbeda-beda. Faktor lingkungan ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Selain individu, kelompok sosial yang lebih besar, seperti keluarga, tetangga, dan masyarakat, memiliki cirri atau karakter atau kebiasaan yang berbeda-beda pula.




DAFTAR PUSTAKA
Elly M. Setiadi.dkk. 2007. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Kencana . Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar